Cerpen - Arti Seorang Teman
Setelah
pulang les untuk menghadapi UN saat di Sekolah Dasar dahulu, Aku, Bima, Riza,
Arif, dan Dedek berencana untuk pergi kepurpustakaan yang ada di kelurahanku.
“nanti, setelah pulang les, kita pergi ke perpustakaan,yuk?”,kata Riza. “Yuk ,
aku juga ingin mencari buku tentang cerita rakyat nhi”, kata Arif, “Yuk aku
sudah lama tidak kesana” kataku menyambung cerita.
Tidak terasa sudah lama kami
mengobrol ternyata kami sudah sampai di gerbang perpustakaan. “Akhirnya sampai
juga”pikirku, “Ayo kita masuk, nanti keburu magrib!” seru Riza. Kami pun
bergegas masuk ke dalam perpustakaan, walaupun perpustakaan yang ada di
kelurahanku tidak begitu besar dibandingkan perpustakaan yang ada di kota,
tetapi kita bisa menemukan berbagai macam buku yang beragam
“selamat sore adik-adik, tumben
kalian mau berkunjung ke perpustakaan ini?” tanya kak Selly penjaga perpustakaan,
“emang kenapa kak, ini kan tempat umum, jadi kami bebas berkunjung kesini?”,
jawab Riza, “nggak apa-apa, kakak cuma heran aja, ya sudah, silakan masuk tapi
jangan rebut ya?” sambung kak Selly, “iya, kak!” jawab kami semua.
Setelah agak lama kami mencari buku,
kami semua sudah mendapat buku masing- masing untuk dipinjam. Kami pun segera
melapor ke kak Selly untuk meminjam buku, “ini kak, saya ingin meminjam buku
yang ini” kataku, kak Selly memulai proses peinjaman buku. “buku ini paling
lambat di kembalikan setelah satu minggu, kalau ingin perpanjang, lapor pada
kakak” kata kak Selly. “iya, kak” kata kami semua. Setelah itu kami pun
bergegas pulang kerumah karena hari sudah hamper magrib.
Setelah shalat magrib, seya ingin
membaca buku yang saya pinjam tadi, buku yang saya pinjam menggambarkan tentang
Kesenian asal Indonesia, dibuku itu mencakup banyak tarian dan karya seni dari berbagai
suku di Indonesia. Ada tari saman dari Aceh, tari tor tor dari sumatera utara,
tari ronggeng dari DKI-Jakarta, tari Jengger dari bali, tari selamat dating
dari papua, dan masih banyak lagi. Tak terasa ternyata adzan Isya telah
berkumandang, saatnya saya sholat isya dan melanjutkan membaca nanti.
Setelah sholat, saya melanjutkan
membaca, saya menemukan info tentang 7 keajaiban di dunia, dan Candi Borobudur
termasuk ke dalam 7 keajaiban didunia, wahh, itu suatu kebanggaan bangsa
Indonesia. Tak terasa saya telah lama membaca, ternyata film kesukaan keluarga
ku telah mulai, yaitu Opera Van Java atau sering di sebut dengan OVJ. “bang
Richard, OVJ dah mulai, sini nonton sama kami” kata adikku, “ya, bentar” kataku
sambil menyimpan buku yang tadi ku pinjam di perpustakaan. Kami sekeluarga pun
menonton film kesukaan kami bersama.
Keesokan harinya, saya berangkat ke
sekolah, di sekolah saya melihat wajah Arif yang murung, saya mengabaikan hal
itu karena saya sudah biasa melihat wajah Arif yang murung. Tetapi wajah murung
itu masih kulihat sampai istirahat pertama, saya berkata pada teman-teman saya
untuk menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. “Za, coba lihat wajah Arif, dari
tadi ku perhatikan wajahnya murung?” tanyaku, “ahh, Arif sudah biasa berwajah
murung, udah tenang aja” kata Riza. “tapi dari tadi ku perhatikan wajahnya
murung terus, coba kita tanyakan saja?” kataku, “ahh, kau ini Chard merepotkan
saja, ya sudahlah ayo kita tanya!, tapi kau yang tanya ya”. Sambung Riza. “iya”
jawabku.
“Rif, saya perhatikan dari tadi
wajahmu murung, apa yang terjadi?” tanyaku, “tidak apa-apa” jawab Arif, “kann,
sudah kubilang tidak ada apa-apa, kau merengkel chard” kata Riza. “iya, Rif,
aku pun perhatikan dari tadi wajahmu murung, sudah bicara saja pada kami, kami
kan sahabatmu”kata Dedek menyambung cerita. “sudah, kalian tenang aja, aku
tidak apa-apa kok” kata Arif. “benar nhi Rif” kataku. “ya udah, nanti kalau ada
apa-apa bicara sama kami, kitakan sahabat” kata Dedek, “iya” jawab Arif
singkat.
Teng…teng…teng…. Jam pelajaran sudah
menunjukan jam ke-lima, semua siswa laki-laki gembira karena jam pelajaran ini
adalah pelajaran olahraga, pelajaran ini yang ditunggu siswa laki-laki pada
setiap hari kamis yaitu olahraga. “yess, akhirnya bel juga, bosan aku belajar”
kata Dedek yang gemar bermain sepak bola. Berhubungan guru olahraga kami sedang
tidak hadir, jadi kami diberi jam olahraga bebas, kami memilih permainan sepak
bola, semua siswa laki-laki bergembera kecuali Arif, wajahnya tetap murung, aku
masih curiga dengannya, aku berencana menanyakannya sepulang sekolah nanti.
Setelah
pulang sekolah, aku memberanikan diri untuk menanyakannya kepada Arif,
“rif..Arif”, sahutku sambil mengejarnya, “ya, ada apa chard?”, tanya arif,
“begini rif, aku masih penasaran sama wajahmu yang murung itu, apakah tidak ada
kejadian apa-apa?” tanyaku, “nggak kok..nggak ada apa-apa, oh iya, aku
buru-buru nih, duluan ya chard!” kata Arif yang langsung berlari meninggalkanku
begitu saja.
Kesesokan
harinya, sama seperti hari kemarin, wajah Arif tetap saja murung, tapi aku
membiarkannya karena dia sudah berkata tidak ada apa- apa dengan dirinya. Aku
dan kawan-kaan lainnya menjalani hari seperti biasanya tanpa ada kendala apapun
dengan hari kami.
Hari
demi hari telah berlanjut, sesampai hari terakhir dimana pengembalian buku yang
kami pinjam seminggu yang lalu, kami berencana memulangkan buku setelah pulang
les sekolah nanti.
Setelah
pulang les, kami semua berencana mmulangkan buku yang kami pinjam. Tetapi saat kami mengajak Arif untuk
mengembalikan buku itu, Arif malah mengaihkan percakapan kami, kami semua
menjadi merasa bingung, “Rif, nanti setelah pulang les, kita mengembalikan buku
yuk, kan sudah waktunya kita kembalikan buku itu” kata Riza. “hmmm….eh eh,
kalian sudah selesai mengerjakan tugas yang dikasih Pak Mardi tadi siang gak,
kalau sudah aku mau lihat, boleh?” kata Arif, “belum lah, kan baru tadisiang di
beri tugas, dan hari ini kita les, ya mana sempat mengerjakannya sekarang,
nanti malam lah ku kerjakan”, kata Riza menjawab pertanyaan Arif, “oh..y udah
lah”, kata Arif sembari meninggalkan kami semua dan kembali ke meja belajarnya.
Akhirnya
waktu sudah menunjukan pukul 17.00 WIB, dimana sudah selesainya pembelajaran di
luar sekolah, kami semua segera menuju ke perpustakaan. “eh..eh..Arif kemana,
apa dia tidak ikut?” tanya Riza, “ntah tu, tadi dia langsung pulang begitu
aja”kata Bima menjelaskan, “apa dia gak mulangi buku, kan ini hari terakhir,
nanti kena denda dia”kata Bima. “ahh..itu urusan dia, tadi ku ajak mulangi buku
dia kgk mau, ntah apa yang dipikirkan anak itu”kata Riza. “tapi nanti kita
ditanya kak Selly, apa yang harus kita jawab?” kata ku memperingati,
“iya.ya..nanti kalau kita ditanya nanti kita bilang apa?” kata Dedek, “ahh,
gampang itu, bilang aja kgk tau” jawab Riza. “ehh,,kamu ini asal ucap aja, dia
kan teman kita” kata Bima. “hehe, maaf..maaf” sambung Riza.
Sesampainya
di perpustakaan, kami semua mengembalikan buku yang kami pinjam seminggu yang
lalu, benar dugaan kami pasti kak Selly menanyakan keberadaan Arif. “dimana
temanmu yang satu lagi, mengapa dia tidak mengembalikan buku yang dia pinjam?”
tanya kak Selly. “kgk tau kak” jawab Riza singkat. “hush..kamu ini bukannya
membantu malah menyelakakan” sambung Dedek, “begini kak, di tadi pulang duluan,
kurasa di ada urusan lain sehingga tidak dapat mengembalikan buku yang dia
pinjam tepat waktu, tapi nanti akan kami tanyakan setelah pulang dari sini”kataku
menjelaskan. “ya, tapi bilang sama dia,jangan terlambat mulanginya, nanti kakak
bisa kena marah”kata kak Selly, “iya kak” jawab kami semua. “ehh..chard, apa
kita mau meenemui Arif dan menanyakannya hari ini?” tanya Riza, “ya enggaklah,
mana sempat, besok ajalah”, jawabku. Setelah itu kami pulang kerumah
masing-masing.
Keesokan
harinya, kami semua mendatangi Arif dan menanyakan tentang pemulangan buku.
“ehh..Rif, kemana kamu semalam,kok kamu kgk mulangi buku, gara-gara kamu kakak
Selly jadi kena marah”kata Riza asal ngomong, “maaf ya teman teman, aku tidak
bisa ngomong sekarang” jawab Arif, “memang kenapa Rif?”tanyaku. “apakah ada
masalah?”kataku. “enggak kok, enggak ada apa apa!” jawab Arif, “kamu ini dari
semalam ditanya kok jawabnya gitu aja gitu aja, apa kgk ada jawaban yang lain”
kata Riza yang tamaknya sudah mulai terbawa emosi, Arif pun terdiam mendengar
perkataan Riza. “hush..kamu Za, tiba-tiba marah, jangan gitu” kata dedek.
“sudahlah Rif, kalau kamu ada masalah bicara aja sama kami, kami kan temen
kamu”kata Bima meyakinkan. Arif diam sejenak, ”begini teman-teman, sebenarnya
buku yang ku pinjam skemarin itu hilang!!!” kata Arif membuat suasana agak
tegang, “Haahh…..Hilang!!” kata kami semua, “emang hilang dimana?” kata Riza,
“kalau aku tau hilangnya dimana, itu namanya bukan hilang” jawab Arif. “hehe”
Riza tertawa kecil. “kok bisa hilang Rif, emang gimana kejadiannya?” tanya
dedek, “begini, seminggu yang lalu sesampainya kita dirumah sehabis meminjam
buku, seingatku aku meletakkannya di atas tasku, tapi saat aku lihat besoknya
kok kagak ada” kata Arif menceritakan
kejadian. “itu sebabnya wajahmu dari kemarin murung, apa sudah kau cari
di semua tempat?” kata Bima. “sudah, sudah kucari ke semua tempat tai tidak
ada” jawab Arif. “ya udah nanti sepulang sekolah kami akan kerumahmu untuk
membantumu mencari buku” kata ku “ya..ya aku setuju itu” kata Riza, Bima dan
Dedek. “tapi, kita pulang dulu kerumah masing-masing, lalu kita kumpu di rumah
Arif!” ucapku menyarankan.
Setelah
kami semua berkumpul di rumah Arif, kami semua berusaha mencari buku cerita
yang hilang kemarin di kamar Arif, selagi orang tua Arif lagi pergi keluar,
jadi kami bisa bebas leluasa mencari buku itu, kami memulai pencarian dari
kamar Arif dahulu, “kita mulai dari kamarmu Rif” kataku memulai pencarian.
Tetapi tidak ditemukan apa-apa, lalu kami menyusuri seluruh ruangan yang ada
diruah Arif. Tapi tidak ada hasilnya juga, “huaahh,,,capek aku dah keliling
keliling kagak ketemu juga” kata Riza. “iya nih,, dah keliling kesana kemari
nggak ada yang ditemukan” kata Bima. Kami pun beristirahat sejenak di teras
depan rumah Arif untuk meregangkan badan. “gimana nih, kita sudah keliling
rumahmu Rif, tapi kgk ada yang ditemukan” kata Riza, “iya nih rif” sambung
Bima. Arif diam sejenak, tetapi tiba-tiba ada suara sepeda motor yang
memecahkan keadaan hening di teras Arif, ternyata itu adalah kakak Arif yang
baru saja pulang dari sekolahnya, “nih Rif buku ceritamu, seminggu yang lalu
kakak pinjam, kakak disuruh guru ngerjakan tugas mencari unsure instrinsik dari
sebuah ceita rakyat, waktu kakak ke kamarmu kakak nemukan buku ini, saat kakak
mau izin pinjam, ehh kamunya ntah pergi kemana, ya kakak ambil aja, thanks y”
kata kakak Arif menjelaskan kejadian, “ahh..kakak ini minjam gak bilang-bilang,
Arifkan jadi kecarian sama kak Selly, penjaga perpustakaan, huh” kata Arif yang
berhati lega. “maaf,,maaf, habisnya kamu sih ntah pergi kemana, jadi kakak
ambil aja bukunya” kata kakak Arif sambil meminta maaf. “kalau begitu, ayo
segera kita kembalikan buku itu kek kak Selly, nanti dia marah lho” kata Riza
menyambung pembicaraan. “ya ayo” kata kami semua.
Sesampainya
di perpustakaan, Arif segera mengembalikan buku itu kepada kak Selly, “kemana
kamu, kamu sudah terlambat satu hari” kata kak Selly dengan nada tinggi,
“begini kak, begini….”kata arif sedikit gaguk, “begini kak, buku ini dipinjam
kakaknya Arif,jadi arif terlambat satu hari karena kakaknya baru pulang sekolah
tadi” kataku sambil membantu Arif berbicara, “ohh, lain kali kalau mau
perpanjang lapor dulu, jangan gak lapor!!” kata kak Selly, “iya kak,” kata Arif
dengan tenang.
Unsur- unsur Intrinsik Dalam Cerpen
Judul : Arti Seorang Teman
Pengarang : Richard Fajar
Tema : Seorang teman yang saling tolong menolong kepada teman lainnya
Alur : Maju
Tokoh : - Richard
- Bima
- Riza
- Arif
- Dedek
- Kak Selly
- Kakak Arif
Latar : -Tempat : - Rumah Richard
- Sekolah
- Perpustakaan
-Rumah Arif
-Waktu : Pagi, Siang, Sore, Malam
-Suasana : Sedih, Gembira
Sudut Pandang : Orang Pertama
Amanat : kita harus tolong menolong sesama teman kita, janganlah membiarkan mereka menderita.

nice
BalasHapusbang cariin gaya bahasanya dong saya buat besok :)
BalasHapusbang siapa pengarang nya ?
BalasHapusSaya sendiri :)
BalasHapus